4 Indikator Ekonomi Yang Berpengaruh Pada Kinerja Reksadana
Seperti yang kita pelajari dalam hal basic reksadana kalau isi dari underlying asset suatu rekadana adalah kalau tidak saham pasti hutang yang sudah menjadi pilihan seorang fund manager, walapun dalam pengelolaannya sudah dilakukan oleh fund manager, alangkah baiknya untuk seorang investor untuk mengetahui faktor ekonomi apa saja yang mempengaruhi kinerja saham dan surat hutang untuk mendapatkan keputusan pemilihan reksadana yang tepat ditengah dinamisnya kondisi market.
Untuk mendapatkan rangkuman indikator ekonomi indonesia kita bisa akes di website https://tradingeconomics.com/indonesia/indicators. Beberapa indikator ekonomi yang berpengaruh terhadap performa reksadana, ialah:
1. Pertumbuhan GDP
GDP juga dikenal juga dengan data pertumbuhan ekonomi, data GDP yang mengukur nilai barang/jasa yang dihasilkan suatu negara dalam waktu satu tahun, angka GDP juga mencerminkan aktivitas dari pergerakan roda ekonomi negara tersebut.
Pertumbuhan GDP suatu negara memiliki 4 komponen di dalamnya yaitu :
Data GDP biasanya dikeluarkan pada setiap kuartal dalam satu tahun, investor biasanya membandingkan angka kuartal GDP dengan kuartal sebelumnya, jika nilai GDP lebih besar dari consensus, maka itu menjadi sinyal positif bagi instrument reksadana
2. Tingkat Inflasi
Data inflasi merupakan tingkat kenaikan harga barang sehari-hari, terjadinya inflasi bukan berarti hal buruk karena inflasi juga menandakan adanya pergerakan ekonomi di suatu negara, asalkan angka inflasi sesuai dengan data yang di targetkan pemerintah, pada saat angka inflasi berada sesuai dengan target pemerintah atau sedikit diatasnya maka itu artinya roda ekonomoi sedang berada pada fase ekspansi, namun sebaliknya apabila angka inflasi terlalu tinggi dari target pemerintah maka itu akan memberikan menunjukan angka kebutuhan pokok yang mahal dan menggerus daya beli masyarakat dan peringatan kepada pemerintah bahwa roda ekonomi sedang melambat
Untuk mengetahui target inflasi pemerintah ada pada halaman utama website bank indonesia https://www.bi.go.id/id/Default.aspx dan untuk mengetahui indikator inflation rate bisa dilihat di https://tradingeconomics.com/indonesia/inflation-cpi
Data inflasi tersebut dikeluarkan setiap bulan dan disajikan dalam periode tahunan oleh BPS
3. Suku Bunga
Data inflasi erat kaitannya dengan dengan suku bunga yang digunakan sebagai acuan Bank Indonesia untuk mengontrol laju ekonomi Indonesia dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga bank. Saat data inflasi dibawah target pemerintah, pemerintah akan mencoba untuk memacu laju ekonomi indonesia dengan menurunkan suku bunga acuan, akibatnya adalah suku bunga pinjaman turun, sehingga masyarakat aktif melakukan kegiatan ekonomi, dengan mulai membuka usaha dengan meminjam di bank atau aktif berinvestasi, sedangkan saat data inflasi sudah jauh diatas target pemerintah akan menaikan suku bunga acuan untuk menanggulangi kenaikan harga terlalu drastis, hal ini karena aktifnya kegiatan ekonomi membuat permintaan pinjamaan uang di bank naik dan pembelian investasi naik, sehingga penjual menaikan harga barang
Kenaikan dan penurunan suku bunga berpengaruh pada reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap, karena suku bunga deposito dan kredit perbankan juga naik dan turun, sesuai dengan suku bunga acuan bank indonesia.
Pada reksadana pendapatan tetap pada saat suku bunga acuan turun, suku bunga deposito juga turun, dampaknya investor akan beralih ke instrumen alternatif yang relatif aman seperti surat utang dan obligasi yang memberikan kupon tetap setiap tahunnya, akibatnya seiring meningkatkan permintaan surat utang atau obligasi oleh investor maka harga surat hutang atau obligasi yang menjadi underlying asset reksadana pendapatan tetap juga akan ikut naik dan diuntungkan.
Sedangkan dampak pada reksadana saham adalah ketika suku bunga acuan turun, suku bunga kredit perbankan juga diturunkan akibatnya banyak perusahaan yang melakukan pinjaman ke bank untuk tujuank ekspansi bisnis, yang diharapkan untuk perusahaan tersebut mendapatkan profit yang lebih besar, yang mana akan membuat harga saham tersebut naik.
4. Manufacturing PMI (Purchasing Manager Index)
PMI adalah data survey mengenai prediksi keadaan ekonomi suatu negara di masa depan di berbagai sektor bisnis, Index manufacturing mempunya nilai acuan 50.0, apabila angka index di atas 50.0 berarti purchasing manager optimis akan prospek sektor manufaktur ke depan karena menunjukan perekonomian sedang tumbuh, keadaan ini memberikan sinyal positif untuk instrument investasi reksadana, sebaliknya apabila angka index dibawah 50.0 dapat diartikan kondisi pertumbuhan ekonomi khususnya sektor manufacturing sedang mengalami perlambatan atau slow down, hal ini akan berpengaruh terdahap kinerja reksadana karena orang kebanyakan akan berhemat dan sedikit berinvestasi
Data manufacturing PMI dikeluarkan setiap bulan, bisa dilihat pada link https://tradingeconomics.com/indonesia/manufacturing-pmi
5. Current Account
Indikator ekonomi terakhir adalah current account, yaitu data ekonomi yang menghimpun seluruh transaksi perdagangan luar negeri suatu negara, meliputi ekspor, impor, transfer tunai antar negara, dan penerimaan dari investasi asing, indikator ekonomi ini penting karena menentukan kuat lemahnya nilai tukar mata uang Rupiah.
Kondisi current account di suatu negara bisa terbagi menjadi 2, yaitu :
Untuk indonesia sendiri presentase current account deficit terhadap GDP tidak boleh melebihi batas ambang -3% sesuai dengan ketentuan UU 95 tahun 2007. Data current account to GDP disampaikan pertahun, bisa dilihat pada link https://tradingeconomics.com/indonesia/current-account-to-gdp
Apabila nilai current account to GDP berada di atas -3% maka akan berpengaruh pada turunnya kinerja suatu reksadana.
Setelah memahami indikator-indikator ekonomi tersebut dan faktor-faktor penting di dalamnya, tentunya kita bisa lebih paham mengenai apa yang mempengaruhi naik turunnya kinerja suatu reksadana.
Untuk mendapatkan rangkuman indikator ekonomi indonesia kita bisa akes di website https://tradingeconomics.com/indonesia/indicators. Beberapa indikator ekonomi yang berpengaruh terhadap performa reksadana, ialah:
1. Pertumbuhan GDP
GDP juga dikenal juga dengan data pertumbuhan ekonomi, data GDP yang mengukur nilai barang/jasa yang dihasilkan suatu negara dalam waktu satu tahun, angka GDP juga mencerminkan aktivitas dari pergerakan roda ekonomi negara tersebut.
Pertumbuhan GDP suatu negara memiliki 4 komponen di dalamnya yaitu :
- Konsumsi
- Investasi
- Pembelanjaan negara
- Net ekspor (Ekspor-Impor)
Data GDP biasanya dikeluarkan pada setiap kuartal dalam satu tahun, investor biasanya membandingkan angka kuartal GDP dengan kuartal sebelumnya, jika nilai GDP lebih besar dari consensus, maka itu menjadi sinyal positif bagi instrument reksadana
2. Tingkat Inflasi
Data inflasi merupakan tingkat kenaikan harga barang sehari-hari, terjadinya inflasi bukan berarti hal buruk karena inflasi juga menandakan adanya pergerakan ekonomi di suatu negara, asalkan angka inflasi sesuai dengan data yang di targetkan pemerintah, pada saat angka inflasi berada sesuai dengan target pemerintah atau sedikit diatasnya maka itu artinya roda ekonomoi sedang berada pada fase ekspansi, namun sebaliknya apabila angka inflasi terlalu tinggi dari target pemerintah maka itu akan memberikan menunjukan angka kebutuhan pokok yang mahal dan menggerus daya beli masyarakat dan peringatan kepada pemerintah bahwa roda ekonomi sedang melambat
Untuk mengetahui target inflasi pemerintah ada pada halaman utama website bank indonesia https://www.bi.go.id/id/Default.aspx dan untuk mengetahui indikator inflation rate bisa dilihat di https://tradingeconomics.com/indonesia/inflation-cpi
Data inflasi tersebut dikeluarkan setiap bulan dan disajikan dalam periode tahunan oleh BPS
3. Suku Bunga
Data inflasi erat kaitannya dengan dengan suku bunga yang digunakan sebagai acuan Bank Indonesia untuk mengontrol laju ekonomi Indonesia dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga bank. Saat data inflasi dibawah target pemerintah, pemerintah akan mencoba untuk memacu laju ekonomi indonesia dengan menurunkan suku bunga acuan, akibatnya adalah suku bunga pinjaman turun, sehingga masyarakat aktif melakukan kegiatan ekonomi, dengan mulai membuka usaha dengan meminjam di bank atau aktif berinvestasi, sedangkan saat data inflasi sudah jauh diatas target pemerintah akan menaikan suku bunga acuan untuk menanggulangi kenaikan harga terlalu drastis, hal ini karena aktifnya kegiatan ekonomi membuat permintaan pinjamaan uang di bank naik dan pembelian investasi naik, sehingga penjual menaikan harga barang
Untuk melihat suku bunga acuan BI bisa dilihat di https://tradingeconomics.com/indonesia/interest-rate
Kenaikan dan penurunan suku bunga berpengaruh pada reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap, karena suku bunga deposito dan kredit perbankan juga naik dan turun, sesuai dengan suku bunga acuan bank indonesia.
Pada reksadana pendapatan tetap pada saat suku bunga acuan turun, suku bunga deposito juga turun, dampaknya investor akan beralih ke instrumen alternatif yang relatif aman seperti surat utang dan obligasi yang memberikan kupon tetap setiap tahunnya, akibatnya seiring meningkatkan permintaan surat utang atau obligasi oleh investor maka harga surat hutang atau obligasi yang menjadi underlying asset reksadana pendapatan tetap juga akan ikut naik dan diuntungkan.
Sedangkan dampak pada reksadana saham adalah ketika suku bunga acuan turun, suku bunga kredit perbankan juga diturunkan akibatnya banyak perusahaan yang melakukan pinjaman ke bank untuk tujuank ekspansi bisnis, yang diharapkan untuk perusahaan tersebut mendapatkan profit yang lebih besar, yang mana akan membuat harga saham tersebut naik.
4. Manufacturing PMI (Purchasing Manager Index)
PMI adalah data survey mengenai prediksi keadaan ekonomi suatu negara di masa depan di berbagai sektor bisnis, Index manufacturing mempunya nilai acuan 50.0, apabila angka index di atas 50.0 berarti purchasing manager optimis akan prospek sektor manufaktur ke depan karena menunjukan perekonomian sedang tumbuh, keadaan ini memberikan sinyal positif untuk instrument investasi reksadana, sebaliknya apabila angka index dibawah 50.0 dapat diartikan kondisi pertumbuhan ekonomi khususnya sektor manufacturing sedang mengalami perlambatan atau slow down, hal ini akan berpengaruh terdahap kinerja reksadana karena orang kebanyakan akan berhemat dan sedikit berinvestasi
Data manufacturing PMI dikeluarkan setiap bulan, bisa dilihat pada link https://tradingeconomics.com/indonesia/manufacturing-pmi
5. Current Account
Indikator ekonomi terakhir adalah current account, yaitu data ekonomi yang menghimpun seluruh transaksi perdagangan luar negeri suatu negara, meliputi ekspor, impor, transfer tunai antar negara, dan penerimaan dari investasi asing, indikator ekonomi ini penting karena menentukan kuat lemahnya nilai tukar mata uang Rupiah.
Kondisi current account di suatu negara bisa terbagi menjadi 2, yaitu :
- Current account surplus : kondisi ekspor > impor, kondisi ini menyebabkan nilai mata uang cenderung lebih kuat dan stabil serta menguntungkan instrumen investasi dalam negeri, termasuk investasi reksadana
- Current account deficit : kondisi ekspor < impor, kondisi berkebalikan dengan current account dificit
Untuk indonesia sendiri presentase current account deficit terhadap GDP tidak boleh melebihi batas ambang -3% sesuai dengan ketentuan UU 95 tahun 2007. Data current account to GDP disampaikan pertahun, bisa dilihat pada link https://tradingeconomics.com/indonesia/current-account-to-gdp
Apabila nilai current account to GDP berada di atas -3% maka akan berpengaruh pada turunnya kinerja suatu reksadana.
Setelah memahami indikator-indikator ekonomi tersebut dan faktor-faktor penting di dalamnya, tentunya kita bisa lebih paham mengenai apa yang mempengaruhi naik turunnya kinerja suatu reksadana.
Comments
Post a Comment
Komentar anda akan masuk langsung ke email pribadi saya